
Erlan seorang anak yatim piatu dengan disabilitas sejak lahir kini usianya menginjak 15 tahun, namun beban hidup yang ia pikul begitu berat. Sejak kecil, Erlan sudah terbiasa menghadapi berbagai kesulitan yang mungkin terlalu besar untuk usianya.
Ia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama Kakek Andreas, yang juga menderita penyakit kaki gajah. Ayahnya meninggal ketika Erlan baru berusia 8 bulan, sementara ibunya pergi meninggalkannya saat ia berusia 2 tahun. Sejak saat itu, Erlan dibesarkan oleh kakek dan neneknya. Namun tak lama kemudian, sang nenek pun berpulang, meninggalkan Erlan hanya bersama kakeknya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Erlan tetap rajin bersekolah. Ia memiliki cita-cita mulia: ingin menjadi seorang guru. Siang hari ia belajar di sekolah, sementara sore hingga malam ia membantu kakeknya berdagang obat herbal sederhana. Obat itu dijual dengan harga Rp5.000–Rp10.000 per bungkus, namun penjualannya sangat terbatas.
Karena Erlan dan kakeknya tidak mampu lagi masuk ke hutan untuk mencari bahan, ramuan herbal biasanya mereka dapatkan dari orang-orang yang pulang dari hutan. Erlan hanya membawa sekitar 10 bungkus untuk dijajakan, dan sering kali tidak semuanya terjual.


Keterbatasan membuat Erlan dan kakeknya kerap bergantung pada kebaikan hati tetangga—ada yang sengaja membayar lebih, ada pula yang memberi sedikit sembako untuk sekadar membantu.
Erlan adalah potret nyata seorang anak yatim yang tangguh. Membantu dan memuliakannya adalah sebuah keutamaan. Mari bersama-sama kita dukung perjuangan Erlan agar ia bisa meraih cita-citanya, sekaligus mendapatkan kehidupan yang lebih layak bersama kakeknya.
Bersama kita bisa wujudkan mimpi Erlan. Donasi sekarang!