
Hidupnya tak lagi muda. Seluruh tumpuan keluarga kini berada di pundaknya yang membungkuk, usianya bahkan sudah 75 tahun, tapi Emak Imin tetap berjuang demi keluarga dan cucunya.
Emak menjalani ujian hidup yang tak mudah sejak suaminya meninggal, ia menanggung beban hidup yang berat ini seorang diri, dari sembilan anaknya, tujuh anak telah berpulang lebih dulu. Kini, tersisa satu anaknya yang alami kelumpuhan dan satu lainnya menderita penyakit kulit.
Setiap hari, dengan tubuh yang sudah renta, Emak Imin tetap berusaha membawa 100 potong gorengan dengan menyusuri jalanan, menawarkan dagangan. Jika kelelahan, Emak terpaksa melipir ke samping jalan untuk beristirahat.
Upah yang didapat dari satu potong gorengan hanya dihargai 100 rupiah. Bila semua terjual habis, Emak bisa membawa pulang uang sekitar Rp20.000. Namun, seringnya Emak pulang dengan tangan kosong karena gorengan tak habis sisa gorengan harus dikembalikan ke pemilik.
Emak Imin tinggal di rumah yang sederhana bersama cucunya satu-satunya penguat hati di sisa hidupnya. Meski tubuhnya sudah renta, Emak tetap berjuang setiap hari agar cucunya bisa makan. Ia rela menahan lapar, asalkan sang cucu tidak kelaparan.
Walau dengan kondisi yang tidak lagi prima, Emak masih membaca Al-Qur’an sebagai rutinitas, mencari ketenangan di tengah beratnya hidup yang ia jalani.
Mari kita ringankan langkah tua Emak Imin. Uluran tangan kita bisa menjadi napas harapan bagi beliau dan cucunya. Sedikit bantuan dari kita, insyaAllah akan menjadi penguat agar Emak Imin tak lagi sendiri menghadapi beratnya hidup di usia senja.
![]()
Menanti doa-doa orang baik